Kompetisi Olimpiade menjadi olimpiade yang paling bergengsi di dunia ini sejak tahun 1959. Negara Indonesia baru bergabung mengikuti kompetisi tersebut pada tahun 1969 di Australia, Namun tidak membuahkkan hasil yang maksimal. Hal tersebut terkendala dari sisi knowledge – skill dan juga bahasa. Para peserta tidak memiliki knowledge – skill yang bersifat High Order Thinking Skill (HOTS) dan juga terkendala oleh kurang pemahaman akan bahasa Inggris.
Perlahan tapi pasti, pemerintah Indonesia mulai membenahi diri mengadakan pelatihan-pelatihan dan sampai sekarang sudah berhasil menorehkan prestasi di kancah kompetisi Olimpiade yang paling bergengsi. Namun, terbatas pada kota – kota besar bahkan sekolah – sekolah tertentu saja atau diistilahkan SILIL (Sekolah Itu Lagi Itu Lagi). Sehingga banyak daerah yang belum mendapatkan informasi dan pelatihan padahal materi yang diujikan tidak terdapat pada kurikulum yang dipelajari sehari-hari di sekolah.
Kompetisi Olimpiade Mate dan Sains banyak diselenggarakan oleh badan – badan independent baik bersifat lokal, regional, nasional bahkan internasional. Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional ( Kemendiknas ) telah mengagendakan Olimpiade Sains Nasional sejak tahun 2003 yang dimulai dari seleksi tingkat kabupaten/kota (OSK) menuju ke seleksi tingkat Propinsi (OSP) dan terbaik akan bertanding di tingkat Nasional (OSN). The best of the best OSN siap-siap untuk tingkat internasional. Pada tahun 2020, Olimpiade Sains Nasional (OSN) berubah nama menjadi Kompetisi Sains Nasional (KSN) sesuai arahan dari KOI (Komite Olimpiade Indonesia) karena kata dan logo tersebut merupakan hak milik dari International Olympic Committee (IOC) yang dilindungi oleh hukum. Hal tersebut dilaksanakan dalam rangka mendukung pemerintah Indonesia dalam mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Olympic di tahun 2032. Namun di tahun 2023, Kemendikbudristek kembali menggunakan kata olimpiade sehingga KSN Kembali menjadi OSN
Kita tidak bisa memungkiri bahwa kualitas pendidikan tergantung pada beberapa faktor, yakni kemampuan serta motivasi murid itu sendiri, ketersediaan materi, kualitas pendidik, dll. Jika murid di daerah pinggiran juga memiliki faktor – faktor tersebut. Niscaya, mereka akan mampu bertanding bahkan mengalahkan siswa dari kota – kota besar maupun siswa dari luar negeri.